Analisis Gravimetri


Analisis Gravimetri
      Gravimetri dalam ilmu kimia merupakan salah satu metode analisis kuantitatif suatu zat atau komponen yang telah diketahui dengan cara mengukur berat komponen dalam keadaan murni setelah melalui proses pemisahan. Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penentuan senyawa gravimetri meliputi transformasi unsur atau radikal senyawa murni stabil yang dapat segera diubah menjadi bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti. Berat unsur dapat dihitung berdasarkan rumus senyawa dan berat atom unsur – unsur atau senyawa yang dikandung dilakukan dengan berbagai cara, seperti : metode pengendapan; metode penguapan; metode elektroanalisis; atau berbagai macam cara lainya. (Khopkar,1999).
Gravimetri adalah pemeriksaan jumlah zat dengan cara penimbangan hasil reaksi pengendapan. Gravimetri merupakan pemeriksaan jumlah zat yang paling tua dan paling sederhana dibandingkan dengan cara pemeriksaan kimia lainnya. Kesederhaan itu terlihat karena dalam gravimetri jumlah zat ditentukan dengan cara menimbang langsung massa zat yang dipisahkan dari zat-zat lain (Rivai,1994).
Pada dasarnya pemisahan zat dengan gravimetri dilakukan dengan cara sebagai berikut. Mula-mula cuplikan dilarutkan dalam pelarutnya yang sesuai, lalu ditambahkan zat pengendap yang sesuai. Endapan yang terbentuk disaring, dicuci, dikeringkan atau dipijarkan, dan setelah itu ditimbang. Kemudian jumlah zat yang ditentukan dihitung dari faktor stoikiometrinya. Hasilnya disajikan sebagai persentase bobot zat dalam cuplikan semua (Rivai,1994).
Suatu metode analisis gravimetri biasanya didasarkan pada reaksi kimia seperti:
aA + rR → AaRr
dimana a molekul analit, A, bereaksi dengan r molekul reagennya R. Produknya, yakni AaRr, biasanya merupakan suatu substansi yang sedikit larut yang bias ditimbang setelah pengeringan, atau yang bisa dibakar menjadi senyawa lain yang komposisinya diketahui, untuk kemudian ditimbang.
Waktu yang diperlukan untuk analisa gravimetri, menguntungkan karena tidak memerlukan kalibrasi atau standarisasi. Waktu yang diperlukan dibedakan menjadi 2 macam yaitu: waktu total dan waktu kerja. Kepekaan analisa gravimetri, lebih ditentukan oleh kesulitan untuk memisahkan endapan yang hanya sedikit dari larutan yang cukup besar volumenya. Ketepatan analisa gravimetri, untuk bahan tunggal dengan kadar lebih dari 100 % jarang dapat ditandingi perolehannya. Kekhususan cara gravimetri, pereaksi gravimetri yang khas (spesifik) bahkan hampir semua selektif dalam arti mengendapkan sekelompok ion. 
Langkah-langkah analisis gravimetri adalah sebagai berikut:
a.       Cuplikan ditimbang dan dilarutkan sehingga partikel yang akan diendapkan dijadikan ion-ionnya.
b.      Dilakukan penambahan pereaksi pengendap agar terbentuk endapan.
c.       Proses pemisahan/penyaringan endapan, agar dipastika endapan sudah tidak terkontaminasi.
d.      Mencuci endapan, kemudian dilakukan pengeringan endapan lalu ditimbang.
Untuk memperoleh keberhasilan pada analisis secara gravimetri, maka harus memperhatikan tiga hal berikut :
1.      Unsur atau senyawa yang ditentukan harus terendapkan secara sempurna.
2.      Bentuk endapan harus diketahui dengan pasti rumus molekulnya.
3.      Endapan yang diperoleh harus murni dan mudah ditimbang.
Dalam analisis gravimetri meliputi beberapa tahap sebagai berikut :
a.       Pelarutan sampel (untuk sampel padat).
b.      Pembentukan endapan dengan menambahkan pereaksi pengendap secara berlebih agar semua unsur/senyawa diendapkan oleh pereaksi. Pengendapan dilakukan pada suhu tertentu dan pH tertentu yang merupakan kondisi optimum reaksi pengendapan.
Tahap analisa gravimetri yang paling penting, yaitu:
a.       Penyaringan endapan.
b.      Pencucian endapan dengan cara menyiram endapan di dalam penyaring dengan larutan tertentu.
c.       Pengeringan endapan sampai mencapai berat konstan.
d.      Penimbangan
e.       Perhitungan

Stoikiometri reaksi Gravimetri
Dalam prosedur gravimetri, suatu endapan ditimbang darinya nilai analit dalam sampel dihitung. Maka persentase analit A adalah :



Contoh faktor gravimetri untuk Fe dalam Fe2O3 umumnya ditulis 2Fe/Fe2O3, di mana Fe berarti berat atom besi dan Fe2O3 berarti berat molekul besi (III) oksida (R.A. Day danUnderwood, 2001).
                                               




Gambar 1. Sistem penyaringan endapan yang dibantu dengan pompa vakum.
Metode di Dalam Analisis Gravimetri
Beberapa metode analisa gravimetri sebagai berikut :
Metode Pengendapan
Pengendapan dilakukan sedemikian rupa sehingga memudahkan proses pemisahan, misalnya: Ag diendapkan dengan AgCl. Aspek yang penting dan perlu diperhatikan pada metode tersebut adalah endapannya mempunyai kelarutan yang kecil sekali dan dapat dipisahkan secara filtrasi. Pada temperatur tertentu, kelarutan zat pada pelarut tertentu didefinisikan sebagai jumlahnya jika dilarutkan pada pelarut yang diketahui beratnya dan zat tersebut mencapai kesetimbangan dengan pelarut itu. Hal ini tergantung pada ukuran partikel. Larutan lewat jenuh adalah larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih besar dibandingkan dengan keadaan kesetimbangan pada suhu tertentu. Contoh reaksi pengendapan dengan pereaksi AgNO3:
NaCl(aq) + AgNO3 → AgCl(s) + NaNO3 (Utami, 2008).
Pengendapan merupakan teknik yang paling luas penggunaannya. Hal terpenting dalam pengendapan suatu analit adalah kemurniannya dan kemudahan penyaringan yang pasti dilakukan dalam teknik pengendapan.
Analisa pengendapan gravimetri akan berjalan baik jika persyaratannya meliputi:
      Kesempurnaan endapan
Analat yang dianalisa telah diubah sepenuhnya menjadi endapan atau dengan kata lain kelarutan endapan dibuat sekecil mungkin.
      Kemurnian endapan
Endapan murni adalah endapan yang bersih tidak mengandung molekul-molekul lain yang disebut juga dengan pengotor atau kontaminan. Endapan yang kotor akan mengandung berat lebih besar dari seharusnya sehingga akan menimbulkan kesalahan yang lebih besar. Kontaminan oleh zat lain sangat mudah terjadi karena endapan timbul dari larutan yang berisi berbagai macam zat.
      Susunan endapan
Endapan yang terbentuk mempunyai susunan konstan dan tertentu atau endapan yang terbentuk dapat diubah menjadi zat yang komposisinya tertentu.
Tahap-tahap pengendapan Gravimetri, meliputi:
      Melarutkan analit
      Mengatur keadaan larutan misalnya pH dan suhu
      Membentuk endapan
      Menumbuhkan kristal-kristal endapan (digestion atau aging)
      Menyaring dan mencuci endapan
      Memanaskan atau memijarkan untuk memperoleh endapan kering dengan susunan tertentu. Hal ini juga dilakukan untuk menghilangkan kertas saring
      Mendinginkan lalu menimbang endapan

Kemurnian Endapan Kopresipitasi
Bila suatu endapan memisah dari dalam suatu larutan, endapan itu tak selalu sempurna murninya, mungkin mengandung berbagai jumlah zat pengotor, bergantung pada sifat endapan dan kondisi pengendapan. Kontaminasi endapan oleh zat-zat yang secara normal larut dalam cairan induk dinamakan kopresipitasi. Kita harus membedakan dua jenis kopresipitasi yang penting. Yang pertama adalah yang berkaitan dengan adsorpsi pada permukaan partikel yang terkena larutan, dan yang kedua adalah yang sehubungan dengan oklusi zat asing sewaktu proses pertumbuhan kristal dari partikel-partikel primer.
Mengenai adsorpsi  permukaan (adsorpsi adalah suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida, cairan maupun gas, terikat kepada suatu padatan atau cairan (adsorben) dan akhirnya membentuk suatu lapisan tipis (adsorbat) pada permukaannya), umumnya akan paling besar pada endapan yang mirip gelatin dan paling sedikit pada endapan dengan sifat makro-kristalin yang menonjol. Endapan dengan kisi-kisi ionik nampak mengikuti aturan adsorpsi Paneth-Fajans-Hahn, yang menyatakan bahwa ion yang membentuk garam yang paling sedikit larut. Maka pada sulfat yang sedikit larut, ion kalsium lebih utama diadsorpsi ketimbang ion magnesium, karena kalsium sulfat kurang larut ketimbang magnesium sulfat. Juga perak ionida mengardsorpsi perak asetat jauh lebih kuat dibanding perak nitrat pada kondisi-kondisi yang sebanding, karena kelarutan perak asetat lebih rendah. Deformabilitas (mudahnya diubah bentuknya) ion-ion yang diadsorpsi dan disosiasi elektrolit dari senyawaan yang diardsorpsi juga mempunyai pengaruh yang sangat besar, semakin kecil disosiasi senyawaa itu semakin besar teradsorpsinya. Maka hidrogen sulfida, suatu elektrolit lemah, sangat kuat diadsorpsi oleh sulfida logam-logam.
Jenis kopresipitasi yang kedua terjadi sewaktu endapan dibangun dari pertikel-partikel primernya. Partikel primer ini akan mengalami adsorpsi permukaan sampai tingkat tertentu dan sewaktu partikel-partikel ini saling bergabung, zat pengotor itu akan hilang sebagian jika terbentuk kristal-kristal tunggal yang besar dan prosesnya berlangsung lambat, atau jika saling bergabung itu cepat mungkin dihasilkan kristal-kristal besar yang tersusun dari kristal-kristal kecil yang terikat tak erat, dan sebagian zat pengotor mungkin terbawa masuk kebalik dinding kristal besar. Jika zat pengotor ini isomorf atau membentuk larutan-padat dengan endapan, jumlah kopresipitasi mungkin akan sangat banyak, karena tak akan ada kecenderungan untuk menyisihkan zat pengotor sewaktu proses pematangan.
Pascapresipitasi (postpresipitasi) adalah pengendapan yang terjadi di atas permukaan endapan pertama sesudah ia terbentuk. Ini terjadi pada zat-zat yang sedikit larut, yang membentuk larutan lewat-jenuh, zat-zat ini umumnya mempunyai satu ion yang sama dengan salah satu ion endapan primer (endapan pertama). Maka pada pengendapan kalsium sebagai oksalat dengan adanya magnesium, magnesium oksalat berangsur-angsur memisah dari larutan dan mengendap diatas kalsium oksalat, makin lama endapan dibiarkan bersentuhan dengan larutan itu, maka makin besar sesatan yang ditimbulkan oleh penyebab ini.  Efek yang serupa dapat diamati pada pengendapan tembaga (II) sulfide dalam asam klorida 0,3M dengan adanya ion-ion zink, zink sulfida dengan perlahan-lahan berpascapresipitasi.
Pascapresipitasi berbeda dari kopresipitasi dalam segi:
a.       Kontiminasi bertambah dengan bertambah lamanya endapan dibiarkan bersentuhan dengan cairan induk pada pascapresipitasi, tetapi biasanya berkurang pada kopresipitasi.
b.      Pada pascapresipitasi, kontaminasi akan bertambah dengan semakin  cepatnya larutan diaduk, baik dengan cara-cara mekanis ataupun termal. Pada kopresipitasi keadaannya umumnya adalah kebalikannya.
c.       Banyaknya kontaminasi pada pascapresipitasi dapat jauh lebih besar dari pada kopresipitasi.

Keadaan Optimum Untuk Pengendapan
            Untuk memperoleh keadaan optimum harus mengikuti aturan sbb:
a.       Pengendapan harus dilakukan pada larutan encer, yang bertujuan untuk memperkecil kesalahan akibat koresipitasi. 
b.       Peraksi dicampur perlahan-lahan dan teratur dengan pengadukan tetap. 
c.        Pengendapan dilakukan pada larutan panas bila endapan yang terbentuk stabil pada temperatur tinggi. 
d.       Endapan kristal biasanya dibentuk dalam waktu yang lama dengan menggunakan pemanas uap untuk menghindari adanya koprespitasi.
e.        Endapan harus dicuci dengan larutan encer.
f.        Untuk menghindari postpresipitasi atau kopresipitasi sebaiknya dilakukan pengendapan ulang

Meminimalkan kopresipitasi:
1.  Metode   penambah   dari   kedua   reagen.   Jika   diketahui   bahwa   baik  sampel maupun   endapan   mengandung   suatu   ion   yang   mengotori,   larutan   yang mengandung ion   ini   dapat   ditambahkan   ke   larutan   lain.  Dengan   cara   ini, konsentrasi   pengotor   dijaga   serendah   mungkin   selama   tahap-tahap   awal pengendapan. Dalam kasus hidrous oksida, mjatan yang dibawa oleh partikel-partikel utama dapat dikendalikan.
2.  Pencucian.   Pengotor-pengotor   yang   teradsorpsi   dapat   dihilangkan   dengan mencuci kecuali mereka terkepung. Dengan endapan-endapan mirip dadih dan yang   bersifat   gelatin,   seseorang   harus  mempunyai   suatu   elektrolit   dalam larutan pencuci untuk menghindari peptisasi.
3.  Pencernaan.   Teknik   ini   bermanfaat   sekali   bagi   endapan   kristalin,   cukup bermanfaat  bagi  endapan mirip dadih,   tetapi   tidak digunakan bagi  endapan yang bersifat gelatin.
4. Pengendapa kembali. Jika zatnya bisa dilarutkan kembali (sepeti garam dari asam  lemah   dalam  asam  kuat),   ia   dapat   disaring,   dilarutkan   kembali   dan diendapkan kembali. Ion pengotor akan berada dalam suatu konsentrasi yang rendah selama pengendapan kedua,  dan karenanya  jumlah yang  lebih kecil akan dikopresipitasi.
5.  Pemisahan. Pengotor itu bisa dipisahkan atau sifat kimiawinya diubah dengan suatu reaksi tertentu sebelum endapan terbentuk.

Pengendapan dari larutan Homogen
            Pada metode ini, reagen dihasilkan secara lambat oleh reaksi kimia homogen dalam larutan. Endapannya berkerapatan tinggi dan dapat disaring, kopretisipasi dikurangi ke nilai minimumnya. Beberapa contoh pengendapan dari larutan homogen adalah:
a.       Sulfat
Dimetilsulfat menghasilkan radikal sulfat dengan reaksi :
(CH2)2SO4 + 2H2O → 2CH3OH + 2H+ + SO42-
b.      Hidroksida
pH dikendalikan secara perlahan-lahan. NH3 dihasilkan dari urea dengan reaksi berikut :
CO(NH2)2  + H2O  → 2NH3 +CO2  pada suhu 90-1000C
Sedangkan aluminium (Al) diendapkan oleh urea sebagai Al(OH)3 dalam media asam suksinat, atau Ba sebagai BaCrO4 pada amonium asetat atau Ni sebagai glioksim ataupun  Al sebagai oksinat.
c.       Oksalat
Kalsium diendapkan sebagai CaC2O4.
Thiorium juga diendapkan sebagai Th(C2O4)2 dengan adanya urea.
Misalnya : CO(NH2)2 + 2HC2O4 + H2O → 2NH3 +CO2 + 2C2O42-
                   (C2H5)2 C2O4 + 2H2O  → 2C2H5OH + 2H+ + C2O42-
d.      Fosfat
Fosfat berkelarutan rendah dapat diendapkan dengan  membuat turunan dari trimetil atau trietil fosfat secara bertahap dengan hidrolisis. Zr diendapkan sebagai Zr3(PO4)4 pada (CH3)3Po4  dalam media yang  mengandung asam sulfat.

Mencuci Endapan
            Agar penetapan kuantitas analit dalam metode gravimetri mencapai hasil yang mendekati nilai sebenarnya, harus dipenuhi 2 kriteria :
  • Proses pemisahan atau pengendapan analit dari komponen lainnya berlangsung sempurna
  • Endapan analit yang dihasilkan diketahui dengan tepat komposisinya dan memiliki tingkat kemurnian yang tinggi, tidak bercampur dengan pengotor.
Untuk syarat kedua, dapat dipenuhi melalui pencucian endapan. Adapun tujuan dari pencucian endapan adalah untuk menyingkirkan kotoran yang teradsorpsi pada permukaan endapan maupun yang terbawa secara mekanis, sehingga di peroleh endapan murni. Endapan murni adalah endapan analit yang bersih, artinya tidak mengandung molekul-molekul lain (zat-zat lain yang biasanya disebut pengotor atau kontaminan).
Larutan pencuci dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :
1.      Larutan yang mencegah terbentuknya koloid yang mengakibatkan dapat lewat kertas saring, misalnya : penggunaan ammonium nitrat untuk mencuci  endapan ferihidroksida
2.      Larutan yang mengurangi kelarutan dari endapan, misalnya : alcohol.
3.      Larutan yang dapat mencegah hidrolisis garam dari asam lemah atau basa lemah.
Mencuci berulang-ulang lebih efektif dibandingkan dengan sekali pencucian dengan volume total yang sama .
Xn=Xo μμ+vn
Di mana :
Xo = konsentrasi pengotor sebelum dicuci
N = jumlah pencucian
Xn = konsentrasi pengotor setelah pencucian
V = volume larutan pencuci
μ = volume cairan yang sisa dalam endapan
Berikut ini adalah criteria pemilihan larutan pencuci :
      dapat melarutkan zat pengotor dengan baik tetapi hampir tidak melarutkan endapan
      tidak mengandung garam yang tidak dapat menguap waktu dipijarkan
      dapat mencegah terjadinya peptisasi pada waktu pencucian endapan
      digunakan larutan pencuci yang mengandung ion senama bila ada kemungkinan endapan dapat larut.
      larutan pencuci yang panas dapat digunakan bila kelarutan endapan memungkinkan

Pembakaran Endapan
     Endapan yang sudah bersih harus dikeringkan sebelum mengalami pemijaran.
      Jika endapan masih melekat pada kertas saring, maka kertas saring ini harus diabukan dulu dengan memakai api sekecil mungkin.
      Kemudian secara teratur temperatur dinaikkan sampai mencapai temperatur yang diinginkan. Harus diperhatikan agar kertas  dapat diabukan secara sempurna, untuk itu perlu diamati warna endapan, jika berwarna putih berarti kertas terabukan sempurna, sebaliknya adanya noda hitam menunjukkan bahwa masih ada sisa kertas yang tidak terabukan sempurna.
      Pemijaran pada temperatur tinggi memungkinkan diuapkannya air yang melekat pada endapan. Makin kuat terserapnya air pada endapan makin tinggi temperatur pemijarannya.
      Contoh : endapan yg berbentuk jel memerlukan temperatur pemijaran yang cukup tinggi, sedangkan endapan hablur tidak memerlukan temperatur pemijaran tinggi.
      Endapan yang sudah dipijarkan tidak dapat langsung ditentukan beratnya karena penimbangan benda dalam keadaan panas tidak menghasilkan harga tetap.
      Harus dilakukan pendinginan sampai temperatur kamar baru dapat ditentukan beratnya.

Metode Penguapan
Metode penguapan dalam analisis gravimetri digunakan untuk menetapkan komponen-komponen dari suatu senyawa yang relatif mudah menguap. Cara yang dilakukan dalam metode ini dapat dilakukan dengan cara pemanasan dalam gas tertentu atau penambahan suatu pereaksi tertentu sehingga komponen yang tidak diinginkan mudah menguap atau penambahan suatu pereaksi tertentu sehingga komponen yang diinginkan tidak mudah menguap.
Metode ini dapat dilakukan dengan cara : Pemanasan dalam udara atau gas tertentu Penambahan pereaksi sehingga mudah menguap Penambahan pereaksi sehingga tidak mudah menguap Zat-zat yang relatif mudah menguap bisa diabsorpsi dengan suatu absorben yang sesuai dan telah diketahui berat tetapnya.  Untuk penentuan kadar air suatu kristal dalam senyawa hidrat, dapat dilakukan dengan memanaskan senyawa dimaksud pada suhu 110° - 130°C. Berkurangnya berat sebelum pemanasan menjadi berat sesudah pemanasan merupakan berat air kristalnya. Asal senyawa tidak terurai oleh pemanasan. Atau bisa juga menggunakan zat pengering seperti : CaCl2, Mg(ClO4)2. Penentuan CO2 dalam senyawa karbonat dapat dilakukan dengan penambahan HCl berlebih, kemudian dipanaskan.gas CO2 yang sudah terjadi dialirkan dalam larutan alkali yaitu KOH (25-30%) atau larutan Ca(OH)2 yang telah diketahui beratnya.
Penentuan NH3 dalam garam Amonium, yaitu garam ditambahkan larutan alkali kuat berlebih dan dipanaskan. Gas NH3 yang terjadi dialirkan dalam larutan standar asam berlebih kemudian kelebihannya dititrasi dengan larutan standar basa. Penentuan Nitrogen dalam protein, mula-mula senyawa didestruksi dengan H2SO4 pekat. Hasilnya ditambahkan basa berlebih dan dipanaskan. Selanjutnya kelebihan asam dititrir dengan larutan standar basa. Penentuan unsur Natrium atau Kalium, yaitu larutan itu diuapkan dengan H2SO4 sampai kering.
Kemudian sisanya berupa garam sulfat ditimbang. Dan sebesar itulah berat unsur yang dicari. Unsur-unsur lain yang mengganggu seperti Si, dapat ditentukan dengan memanaskan cuplikan bersama H2SO4 dan HF dalam krus platina. Dimana Si berubah menjadi SiF4 yang menguap, sesuai persamaan :
SiO2 + 6HF            H2SiF6 + 2H2O H2SiF6             SiF4 + 2HF .

Metode Elektrolisis
Description: http://www.chem-is-try.org/wp-content/uploads/2009/03/elektrolisis.jpg 
Gambar2. Rangkaian alat metode elektrolisis
       Prinsip Metode Elektrolisis
Metode elektrolisis atau elektrogravimetri dilakukan dengan cara mereduksi ion-ion logam terlarut menjadi endapan logam. Ion-ion logam berada dalam bentuk kation apabila dialiri dengan arus listrik dengan besar tertentu dalam waktu tertentu maka akan terjadi reaksi reduksi menjadi logam dengan bilangan oksidasi nol.
Endapan yang terbentuk selanjutnya dapat ditentukan berdasarkan massanya, misalnya mengendapkan tembaga terlarut dalam suatu sampel cair dengan cara mereduksi. Reduksi elektrokimia menyebabkan mengendap pada katoda. Hasil pada katoda ditimbang sebelum dan setelah percobaan, dan perbedan dapat digunakan dengan menghitung persentase dari sampel dalam larutan. Pada reaksi elektrolisis ini, energi listrik akan diubah menjadi reaksi kimia. Reaksi yang terjadi pada elektrolisis bergantung pada:
·         Sumber arus searah
·         Jenis elektroda
·         Larutan elektrolit
Dalam bentuk yang biasa, elektrogravimetri melibatkan penyalutan suatu logam pada katoda platinum yang telah ditimbang dam kemudian penimbangan kembali untuk menetapkan kuantitas logam itu. Penetapan tembaga merupakan contoh, dilarutkan dalam asam nitrat, katoda kasa platinum, yang telah dibersihkan dalam asam nitrat, dibilas, dikeringkan dalam oven, dan ditimbang, kemudian dicelupkan ke dalam larutan dan dibuat hubungan listrik dengan menggunakan sejenis jepitan. Voltase luar dinaikkan sampai ammeter itu menunjukkan suatu arus dan katoda tampak kemerahan (dari tembaga). Akan tampak gelembung yang timbul dari anoda. Suhu dalam persamaan Eaplied tersebut tidak dapat dihitung dengan tepat. Beberapa seharusnya Eapplied seharusnya menambahkan sesuatu voltase ekstra untuk memastikan bahwa elektrolisis itu berjalan. Pada akhir elektrolisis, katoda diambil dari larutan, sementara votase luar masih dikenakan (untuk mencegah melarutnya kembali lapisan tembaga itu oleh kerja galvani). Katoda itu dibilas dengan air suling, kemudian dicelupkan kedalam etanol atau aseton untuk memudahkan pengeringan, dikeringkan dengan cepat dalam oven untuk menghindari oksidasi pada permukaan tembaga dan akhirnya didinginkan dan ditimbang.
Diinginkan medium asam nitrat untuk eksperimen dengan menurunnya konsentrasi Cu2+ oleh elektrolisis, katoda makin menjadi negatif sampai mulai reduksi nitrat.
NO3- + 10 H+ + 8e → NH4+ + 3H2O
Ini menstabilkan potensial katoda yang kemudian menjadi menjadi tidak cukup negatif untuk mereduksi logam lain, seperti nikel, yang mingkin terdapat dalam sample (itu juga mencegah reduksi H+, yang tak disukai karena pembebasan hidrogen yang terjadi bersama-sama akan menyebabkan endapan tembaga menjadi seperti karet dan tak mau menempel.
Beberapa istilah yang dipakai dalam analisis elektrogravimetri :
o   Sel volta (galvani) dan sel elektrolisis adalah suatu sel terdiri dari dua elektroda dan satu atau lebih larutan dalam wadah yang sesuai. Jika sel iti dapat memberi eneegi listrik kepada suatu sistem-luar (eksternal), ia disebut sel volta atau galvani.
o   Sel elektrolisis adalah energi kimia diubah sedikit banyak dengan lengkap menjadi energi listrik, tetapi sebagian dari energi itu terbuang menjadi kalor (panas). Jika energi listrik itu diberikan dari suatu sumber luar, sel melalui mana yang mengalir dinamakan sel elektrolisis. Dan hukum-hukum faraday menjelaskan perubahan utama pada elektroda-elektroda. Suatu sel tertentu dapat berfungsi sesaat sebagai sel galvani dan pada saat lain sebagai elektrolisis.
Contoh : akumulator, timbel atau aki. Selama suatu elektrogravimetri, sebuah sel galvani
Selagi produk-produknya terbentuk diatas elektroda-elektroda. Jika arus dimatikan, produk ini cenderung menghasilkan suatu arus dengan arah yang berlawanan dimana arus elektrolisis dilakukan.
o   Katoda adalah elektroda pada mana reduksi terjadi. Dalam sebuah sel elektrolisis, elektrode yang melekat pada terminal negatif dari sumber, karena elektron-elektron meninggalkan sumber dan masuk kedalam sel elektrolisis pada terminal tersebut. Katoda adalah terminal positif dari sebuah sel galvani, karena sel demikan menerima elektron-elektron ada terminal ini.
o   Anoda adalah elektrode dimana oksidasi terjadi. Ini adalah terminal positif dari suatu sel elektrolisis atau terminal negatif dari suatu sel volta.
o   Penetapan elektrogravimetri sederhana , digunakan secara meluas untuk logam. Teknik itu sangat berhasil bila logam yang cukup mulia seperti tembaga atau perak harus ditetapkan dalam sample yang konstitusi-konstitusi lainnya tak semudah H+ untuk direduksi.
o   Elektrode terpolarisasi adalah suatu elektrode yang terpolarisasi jika potensialnya menyimpang dari nilai reversibelnya atau nilai keseimbangannya. Suatu elektrode dikatakan didepolarisasi oleh suatu zat, jika zat ini menurunkan banyaknya polarisasi.

Hukum Dasar dalam Elektrolisis
Hukum dasar yang digunakan dalam metode ini adalah : Hukum Faraday dan Hukum Ohm. 
Hukum Faraday I
Menyatakan hubungan antara banyaknya zat yang terendap atau terbebas pada elektroda dengan banyaknya listrik yang diperlukan pada proses tersebut.
W = e x Q/F    dengan            W = Jumlah zat terendap/terbebaskan (gram)
Q = Jumlah listrik yang dibutuhkan (Colloumb)
e = berat ekivalen elektrokimia
Berat ekivalen elektrokimia adalah bilangan yang menyatakan banyaknya zat yang terendap atau oleh listrik sebanyak 1 colloumb.
Contoh : arus 0,2 colloumb dialirkan pada dua keping tembaga (Cu) yang telah ditentukan massa tetapnya. Dan dicelupkan dalam garam Kuprisulfat (CuSO4) selama t detik. Kemudian dicuci dan dikeringkan serta ditimbang, ternyata beratnya lebih berat dari pada sebelum dielektrolisis. Karena adanya logam Cu yang terendapkan pada elektroda. Dimana banyaknya logam Cu yang terendapkan bertambah setiap penambahan arus maupun waktu. Adapun listrik yang dibutuhkan adalah :
Q = i x t           dengan            i = arus,
t = waktu, dan
Q = listrik yang dibutuhkan.
Hukum Faraday II
Menyatakan Hubungan antara banyaknya zat terendap atau terbebaskan pada elektrolisis bertahap dalam seri larutan.
Bunyi hukumnya : ”banyaknya zat terendap atau terpisahkan dari masing-masing elektroda yang disebabkan oleh listrik yang sama banyaknya dan mengalir dalam seri larutan adalah sebanding  dengan berat ekivalen kimianya”
 Misalnya : arus 1 amper dialirkan dalam suatu seri larutan : kupri sulfat (CuSO4) dan perak nitrat (AgNO3) dalam waktu t, banyaknya logam Cu dan Ag yang terendapkan pada masing-masing elektroda = Hukum Ohm
Menyatakan hubungan antar tiga besaran listrik yaitu : tegangan (E), arus (I) dan tahanan (R) yang memenuhi persamaan 
Tegangan Peruraian
Misalnya tegangan 0,5 Volt digunakan pada 2 buah elektroda platina halus yang masing-masing dicelupkan dalam larutan H2SO4 1M, maka amperemeter akan menunjukan adanya arus yang mengalir pada larutan. Jika tegangan diperbesar maka aruspun bertambah. Sehingga pada tegangan tertentu arus akan naik secara cepat. Pada saat ini timbul gelembung-gelembung padaelektroda.
Tegangan peruraian adalah besarnya tegangan luar minimum yang harus diberikan agar terjadi proses elektrolisis yang kontinyu. Jika Arus diputus, tegangan pada voltmeter tidak berubah, tetapi semakin lama arus makin lemah dan pada akhirnya nol. Pada saat itu sel E berfungsi sebagai sumber arus dan tegangannya disebut tegangan Polarisasi. Dilihat dari besarnya tegangan peruraian larutan asam dan basa dapat disimpulkan bahwa pada proses elektrolisis larutan asam dan basa relatif sama, yaitu terjadinya proses pembebasan gas.
Reaksi Elektroda
Elektroda Pt dan C
Pada katoda terjadi proses Reduksi dan pada Anoda terjadi proses Oksidasi.
a.       Proses Reduksi pada Katoda
Jika Larutan mengandung
·         Ion logam alkali, alkali tanah, Al3+,Mn2+, didalam larutan ion-ion tersebut tidak dapat tereduksi. Sehingga palrtlah yang akan mengalami reduksi.
2 H2O + 2 e- à 2 OH- + H2
·         Asam, ion H+ dari asam tersebut akan tereduksi menjadi gas H2
2 H+ + 2 e- à H2
·         Ion logam lain selain poin a.1, dimana ion tersebut akan tereduksi menjadi logam bebasnya.    Zn2+ + 2e- + à Zn
Ag+ + e- à Ag
b.      Proses Oksidasi pada Anoda Apabila larutan mengandung :
·         Ion halida, akan tereduksi menjadi halogen
2 Hal- à Hal2 + 2 e-
·         Ion OH- dari suatu basa, teroksidasi menjadi okisigen.
4 OH- à 2 H2O + O2 + 4 e-
·         Anion lain selain halogen dan OH-, ion tersebut tidak teroksidasi sehingga pelarutnya yang teroksidasi.
Elektroda selain Pt dan C
Logam lainnya yang biasa digunakan sebagai elektroda adalah : Cu, Zn, Fe, Au dan lain-lain. Perbedaan dengan elektroda Pt dan Cu yaitu hanya pada reaksi Anodanya sedang katodanya relatif sama. Dimana anodanya teroksidasi menjadi ionnya.
Contoh: elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektroda Zn.
Reaksi anodanya : Zn à Zn2+ + 2 e-
Contoh menentukan tegangan peruraian K dalam larutan molar ZnBr2, dicelupkan elektroda Pt yang halus.dan diberikan beda potensial sehingga terjadi proses elektrolisis. Dimana pada katoda berlangsung proses : Zn2+ + 2 e- à Zn dan pada anoda : 2 Br- à Br2 + 2 e-
Reaksi
Unit elektrolisis
Susunan yang dipakai dalam keadaan yang berbeda-beda antara satu laboratorium dengan lainnya, sebuah rangkaian sederhana yang memakai saluran listrik arus searah (200-240 volt atau 110 volt). M adalah saluran arus searah, R1 sebuah tahapan tetap (yang terdiri dari suatu bangku lampu-lampu), R2 debuah tahapan variabel kecil dengan wattase yang tinggi, A sebuah ammeter dengan pembacaan sampai dengan 10 amp, V sebuah voltmeter dengan pembacaan sampai dengan 10-15 volt, E sebuah bejana elektrolisis, dan S sebuah saklar. Pilihan lain, sumber arus searah boleh berupa sebuah baterai mobil 6 volt yang berkapasitas besar, atau sejumlah akumulator (aki) yang dihubungkan secara seri. Jika sumber arus searah tak tersedia, salah satu dari unit penyedia listrik arus searah komersial yang beroperasi pada jaringan arus bolak-balik dapat digunakan. Sebuah trasformator menurunkan voltase menjadi 3-5 volt, arus lalu dialirkan melalui sebuah alat penyearah, dan akhirnya melalui sebuah rangkai filter rata.
Jika polaritas terminal (ujung-ujung jepit) tak diketahui, ini dapat ditetepkan dengan menyentuhkan kedua kawat dari terminal itu ke atas kertas yang dibasahi dengan larutan kaliun iodida, suatu noda coklat dari iod akan terbentuk pada kutub positif.
Elektroda
Umumnya dibuat dari platinum atau dari platinum-iridium, meskipun elektroda-elektroda titanium berlapiskan platinum (terplatinasi) juga tersedia (Baird and Tatlock): elektroda kasa lebih disukai karena mereka membantu dalam peredaran larutan, dan membantu mengurangi setiap kecenderungan menghabisnya elektrolit secara setempat.Dengan elektroda tipe Fischer harus digunakan sebuah pengaduk dayung dari kaca yang independent, atau sebuah batang pengaduk magnetik.
Katoda merkurium
Digunakan meluas untuk pemisahan-pemisahan elektrolisis arus konstan. Penggunaannya paling penting adalah pemisahan logam-logam alkali dan alkali tanah, Al, Be, Mg, Ta, V, Zr, W, U, dan Lantanoid-lantanoid dari unsure seperti Fe, Cr, Ni, Co, Zn, Mo, Cd, Cu, Sn, Bi, Ag, Ge, Pd, Pt, Au, Rh, Ir, dan Ti, yang pada kondisi yang sesuai, dapat didepositkan diatas sebuah katoda merkurium. Maka metode ini mempunyai nilai khusus untuk penetapan Al dan sebagainya, dalam bejana dan aliase: metode ini juga diterapakan dalam pemisahan besi dan unsur-unsur, seperti: titanium, vanadium, dan uranium. Dalam elektrolisis arus konstan yang tak terkendali dalam suatu medium asam, potensial katoda dibatasi oleh potensial pada ion hidrogen tereduksi, potensial hydrogen diatas merkurium adalah tinggi (kira-kira 0,8 volt), dan akibatnya banyak logam didepositkan dari suatu larutan asam pada sebuah katoda merkurium

Tegangan Kelebihan
Pada kenyataannya besarnya tegangan peruraian tergantung pada jenis elektroda yang digunakan dan biasanya ebih tinggi dari yang dihitung dengan rumus diatas. Perbedaan besarnya tegangan tersebut yang disebut tegangan kelebihan. Dengan adanya tegngan tersebut maka tegangan peruraian menjadi : 
dengan            Eekat = tegangan kelebihan pada katoda, dan
Eeand = tegangan kelebihan pada anoda.
Besarnya tegangan kelebihan baik pada katoda mapun anoda merupakan fungsi dari :
·         Jenis dan sifat fisik logam dari elektroda
Sifat fisik zat yang terendap atau terbebas, jika logam tegangan kelebihannya kecil dan jika gas relatif lebih besar
·         Kerapatan arus yang digunakan
·         Perubahan konsentrasi larutan

Pengendapan Sempurna
Perubahan tegangan pada pada katoda selama proses elektrolisis, terutama pada proses pengendapan, besarnya potensial katoda dinyatakan dengan persamaan Nernst.
Besarnya potensial ini tidak bergantung pada besarnya konsentrasi ion logamnya tetapi tergantung dari biloks ion logam dalam larutan. Jika ion logam selama proses telah tereduksi 10-4 kali proses semula, maka untuk ion logam: Univalent potensial katodanya akan berubah sebesar 4 x 0,591 Volt.

Presipitan Organik
Banyak ion anorganik diendapkan dengan reagensia organik tertentu yang disebut pengendap organik. Kebanyakan pengendap organik akan bersenyawa dengan kation membentuk senyawa cincin sepit, contohnya Ni(C4H7N2O2)2, hasil reaksi kation Ni dengan pengendap organik dimetilglioksima. Penggunaan pengendap organik mempunyai keunggulan dibandingkan dengan pengendap-pengendap kation lainnya. 
Keunggulan pengendap organik, antara lain :
·         Banyak senyawa logam tidak larut dalam air (mengendap) sehingga dapat dilakukan analisa secara kuantitatif.
·         Bobot molekul pengendap organik itu relatif besar, jadi hanya dengan sedikit logam dapat menghasilkan endapan berat.
·         Beberapa pengendap organik itu cukup selektif/spesifik, hanya mengendapkan kation jenis tertentu
·         Endapan-endapan yang diperoleh dengan reagensia organik seringkali kasar dan bervolume meruah (banyak), dan karena itu mudah ditangani.
·         Dalam beberapa kasus, suatu logam dapat diendapkan dengan sautu reagensia organik; endapannya ditampung dan dilarutkan, molekul organiknya dititrasi; maka diperoleh metode titrimetrik tidak langsung bagi logam itu.
       (R.A. Day dan Underwood, 2001).

2.4.Penerapan Analisis Gravimetri
Analisis gravimetri telah banyak diaplikasikan untuk analisis kation dari unsur-unsur yang terdapat dalam sistem periodik unsur-unsur. Metode gravimetri dapat juga digunakan untuk analisis kuantitatif bahan organik tertentu seperti kolesterol pada sereal dan laktosa pada produk susu.
Kolesterol sebagai steroid alkohol dapat diendapkan secara kuantitatif dengan saponain organik yang disebut digitonin (Mr =1214) membentuk kompleks 1:1 yang tidak larut.
Metode gravimetri bukanlah metode analisis kuantitatif yang spesifik, sehingga dapat digantikan dengan metode analisis instrumentasi modem seperti spektroskopi dan kromatografi. Walaupun demikian, metode gravimetri masih sering menjadi pilihan karena peralatan dan prosedur pelaksanaannya yang sederhana.
Analisis gravimetri masih banyak diterapkan untuk analisis konstituen makro yang menghasilkan endapan AgCl, BaSO4, Fe(OH)3.
1.    Perak Klorida (AgCl)
Endapan perak klorida, AgCl dalam bentuk endapan yang dihasilkan dari proses koagulasi bahan koloid. Endapan perak klorida mudah disaring, dicuci dengan air yang mengandung sedikit asam nitrat dan dikeringkan. Penambahan asam nitrat dalam air pencuci dimaksudkan untuk mencegah proses peptisasi dan penguapan ketika endapan dikeringkan.
Umumnya endapan AgCl disaring dengan menggunakan cawan porselin berpori, kemudian dikeringkan pada suhu 110-130°C. Proses pengendapan AgCl sangat kuantitatif, kesalahan pengukuran biasanya timbul karena terjadinya proses penguraian oleh cahaya matahari.
Kesalahan karena penguraian biasanya dapat diabaikan, kecuali jika endapan terkena cahaya matahari langsung dalam jangka yang cukup lama. Kelarutan AgCl dalam air sangat kecil, sehingga kehilangan karena kelarutan dapat diabaikan. Jika dalam air terdapat basa, garam amonium atau asam berkonsentrasi tinggi akan meningkatkan kelarutan AgCl, dan menimbulkan kesalahan pengukurannya.
2.    Barium Sulfat (BaSO4)
Barium sulfat merupakan endapan putih kristalin yang sangat sulit larut dalam air, sehingga kehilangan karena proses pelarutan dapat diabaikan. Proses pengendapan dilakukan dalam suasana asam HC1 0,01 M untuk memperbesar ukuran kristal dan menghindari terjadi bentuk padatan barium lainnya, seperti BaCO3.
Kesalahan pengukuran biasanya ditimbulkan oleh terbentuknya endapan anion dan kation lain seperti khiorit dan besi(III).
Endapan BaSO4 disaring menggunakan kertas saring, kemudian dicuci dengan air panas. Dalam proses pengeringan, kertas saring harus tidak boleh terbakar karena karbon yang dihasilkan akan tereduksinya sulfat menjadi sulfida.
Endapan BaS dapat diubah kembali menjadi BaSO4 dengan membasahi H2SO4 dan dipanaskan. Cawan porselin berpori dapat digunakan untuk menggantikan kertas saring.
Belerang dalam bentuk lain, seperti sulfida, sulfit, tiosulfat dan tetrationat dapat ditetapkan melalui cara pengendapan setelah dioksidasi menjadi bentuk sulfatnya. Pengoksidasi yang biasa digunakan adalah permanganat. Belerang dalam senyawa organik dapat ditetapkan melalui pengendapan setelah diubah menjadi bentuk sulfatnya dengan menggunakan natrium peroksida, Na2O2.
Penetapan kuantitas belerang pada bijih mineral seperti pyrite, FeS2 dan chalcopyrite, CuFeS2 didahului dengan perlakuan untuk mengubah menjadi bentuk sulfat menggunakan natrium peroksida.
Kation lain yang sering diendapkan secara kuantitatif dengan sulfat adalah timbal dan stronsium. PbSO4 dan SrSOmemiliki kelarutan dalam air lebih besar dibandingkan BaSO4. Untuk mengurangi kelarutan SrSO4 dapat ditambahkan alkohol.
3.    Besi (III) Hidroksida (Fe(OH)3)
Penetapan secara gravimetri dari besi melibatkan pengendapan sebagai besi(III) hidroksida diikuti dengan pemanasan pada suhu tinggi utntuk menghasilkan Fe2O3.
Metode gravimetri untuk penetapan besi dalam batuan didahului dengan pelarutan dalam HCl dan HNO3, kemudian ditambahkan pula brom untuk mengoksidasi besi menjadi Fe3+.
Oksida hidrat besi merupakan endapan gelatin yang sangat sulit larut dalam air (Ksp = 1x106). Endapan kemudian dicuci dengan air yang mengandung sedikit amonium nitrat untuk menghindari peptisasi.
Penyaringan dilakukan dengan menggunakan kertas saring bebas abu, kemudian dibakar dan dipanaskan pada suhu tinggi untuk melepaskan semua airnya.
Kesalahan utama yang timbul dalam pengukuran disebabkan oleh terikutnya mengendap ion lain karena teradsorpsi pada gel Fe(OH)3. Untuk mencegah teradsorpsinya ion asing pengendapan umumnya dibuat dari larutan asam, sehingga partikel koloid yang dihasilkan bermuatan positif yang cenderung tidak menyerap kation. Besi(III) oksida, Fe2O3 mudah direduksi menjadi Fe3O4 atau Fe dengan menggunakan karbon, tetapi hasil reduksi ini dapat dikembalikan menjadi Fe2O3 dengan menggunakan asam nitrat pekat kemudian dipanaskan kembali (Anonim, 2010h).

Aplikasi Gravimetri
Pengaruh Rasio O/U Terhadap Perubahan Fase
Pada Hasil Proses Oksidasi Gagalan
Rangkaian proses pembuatan pelet (peletisasi) dimulai dari serbuk uranium oksida atau UO2 alam yang dikompaksi dengan tekanan tertentu menjadi pelet mentah (green pellet) berbentuk silinder. Pelet mentah selanjutnya disinter dalam tungku pada temperatur, waktu dan atmosfir tertentu menjadi pelet sinter. Proses oksidasi yang dilanjutkan dengan proses reduksi gagalan pelet sinter uranium oksida dapat menghasilkan serbuk UO2 kembali, sehingga dapat digunakan sebagai serbuk awal bahan umpan dalam pembuatan pelet mentah. Proses oksidasi yaitu proses pemanasan gagalan pelet sinter UO2 dalam tungku dengan atmosfir udara, sehingga pelet UO2 berubah menjadi serbuk U3O8 melalui reaksi berikut :
3UO2 + O2 → U3O8
dengan atmosfir hidrogen, mengubah U3O8 menjadi serbuk UO2, dengan reaksi seperti di bawah ini.
U3O8 + 2H2 →  3UO2 + 2H2O
Serbuk UO2 yang diperoleh bila sudah memenuhi spesifikasi yang ditetapkan siap digunakan kembali sebagai campuran serbuk umpan dalam pembuatan pelet mentah. Hal-hal yang mempengaruhi proses oksidasi tersebut antara lain adalah temperatur dan waktu pemanasan. Secara umum, semakin tinggi temperatur atau semakin lama waktu pemanasan, maka bisa saja proses oksidasi terjadi semakin tinggi, seperti terlihat pada Gambar 1 diagram fase di bawah ini. Diagram fase uranium-oksigen tersebut menunjukkan pengaruh temperatur terhadap rasio O/U pada rentang temperatur 100 oC sampai dengan 1500 oC. Pada temperatur antara 100-400 oC. Untuk mengetahui pengaruh rasio O/U terhadap perubahan yang mungkinterjadi pada parameter kisi kristal dari fase uranium oksida hasil prosesoksidasi, maka diperlukan uji dan analisis rasio O/U dengan metode gravimetri serta uji dan analisis kristalografi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD). 
Teori Rasio O/U
Rasio O/U merupakan salah satu uji dari pelet atau serbuk pada analisis
kendali kualitas menggunakan metode gravimetri. Metode gravimetri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada prinsip penimbangan. Metode gravimetri digunakan pada beberapa bidang, di antaranya untuk mengetahui suatu spesies senyawa dan kandungan unsur tertentu atau molekul dari suatu senyawa murni yang diketahui berdasarkan pada perubahan berat atau melihat adanya perubahan senyawa yang terjadi selama pemanasan dari UO2menjadi U3O8 seperti pada persamaan. Cara pengukuran yang digunakan untuk mengetahui berat suatu bahan. Rasio O/U merupakan rasio antara oksigen dan uranium yang terkandung dalam pelet atau serbuk, yang dapat diperoleh dari % U dan dicari dengan metode gravimetri atau dengan koreksi pada tabel. Dengan rumus :
Berat U dalam U3O8  = (3 x BA U-238) : ( Mr U3O8) x Berat U O
Analisis gravimetri bertujuan untuk mengetahui rasio O/U sehingga perubahan fase UO2 menjadi fase U3O8 dapat diketahui (Ratih, 2011).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tentang Orde Baru

Passive Voice

Generic Structure Text